#14. Mengenal Fund Fact Sheet Reksa Dana

Bisnis reksa dana adalah bisnis kepercayaan. Dalam membangun kepercayaan selain layanan yang prima dan penjelasan yang komprehensif, laporan akan bagaimana dana nasabah dikelola juga berperan penting. Laporan yang memuat informasi pengelolaan dana disebut Fund Fact Sheet (FFS).

Sesuai dengan peraturan yang terdapat dalam prospektus, Manajer Investasi wajib menerbitkan FFS setiap bulan dan merupakan hak bagi investor reksa dana untuk memperolehnya. Meski demikian, FFS bukan hak bagi umum sehingga tidak ada kewajiban untuk mempublikasikan laporan tersebut.

Umumnya FFS bisa ditemukan di dalam situs yang dikelola oleh Manajer Investasi dan Agen Penjual. Ada juga Manajer Investasi yang melampirkan cetak FFS yang dikirimkan ke nasabah bersamaan dengan laporan perkembangan saldo setiap bulan.

Namun, seiring dengan jumlah investor yang semakin banyak, biaya cetak dan kirim yang semakin mahal serta perkembangan teknologi informasi, kini banyak yang beralih menggunakan situs dan applikasi pada smartphone.

Nah, apa saja informasi dalam FFS yang patut kita cermati?

Informasi Jumlah Dana Kelolaan dan Unit Penyertaan

Di dalam FFS, kita bisa mendapatkan perkembangan Nilai Aktiva Bersih atau Jumlah Dana Kelolaan dan Unit Penyertaan per akhir bulan.

Informasi jumlah dana kelolaan perlu kita cermati karena ada ketentuan minimum dana kelolaan untuk reksa dana adalah Rp 25 milliar. Apabila suatu reksa dana gagal mencapai minimum ketentuan dana kelolaan tersebut berturut-turut selama 90 hari kerja, maka reksa dana harus dibubarkan.

Selain itu, dana kelolaan bersama dengan Unit Penyertaan juga bisa menjadi salah satu indikator kepercayaan masyarakat terhadap Manajer Investasi. Semakin besar dana kelolaan, berarti semakin besar kepercayaan masyarakat terhadap reksa dana tersebut.

Informasi Harga dan Kinerja Reksa Dana

Harga reksa dana atau biasanya juga disebut NAB per Up beserta kinerjanya per akhir bulan juga bisa diperoleh dalam reksa dana. Informasi harga bisa menjadi patokan sederhana bagi kita untuk mengetahui apakah hasil investasi menguntungkan atau tidak dengan membandingkan dengan harga belinya.

Karena periode beli setiap investor berbeda-beda, maka Manajer Investasi juga menunjukkan hasil investasi secara historis yang diukur dengan beberapa periode ke belakang. Sebagai contoh 1 Bulan 1,5 persen, 3 Bulan -3 persen, Year To Date 7 persen, 1 Tahun 12 persen, 3 Tahun 32 persen, Since Inception 75 persen.

Cara membaca adalah sebagai berikut. Misalkan FFS yang dikirimkan adalah periode Mei 2015, maka dengan mengacu pada contoh di atas Manajer Investasi mau menginformasikan bahwa jika investor berinvestasi 1 bulan yang lalu yaitu pada 30 April 2015 dan menjualnya pada 31 Mei 2015 maka dia akan mendapatkan keuntungan 1,5 persen.

Jika investor sudah berinvestasi sejak 3 bulan lalu yaitu 28 Februari 2015 dan menjualnya di 31 Mei 2015 maka dia akan mengalami kerugian -3 persen dan seterusnya berlaku untuk 3 bulan, 1 tahun, 3 tahun dan pada beberapa produk yang telah berusia panjang ada informasi 5, 7, 10 dan bahkan 15 tahun.

Yang dimaksud dengan Year to Date atau sering disingkat YTD adalah periode investasi yang dilakukan sejak akhir tahun lalu hingga periode laporan. Dari contoh di atas, berarti investasi dilakukan pada 31 Desember 2014 dan dijual pada 31 Mei 2015. Jika laporannya Agustus 2015, berarti dari 31 Desember 2014 hingga 31 Agustus 2015.

Yang dimaksud dengan Since Inception atau Sejak Terbit adalah jika investor membeli reksa dana tersebut sejak reksa dana diterbitkan pertama kali. Untuk reksa dana yang mata uangnya Rupiah, harga pertama kali adalah selalu 1.000 dan untuk yang mata uangnya dollar AS atau euro, harga pertama kali adalah 1.

Tujuan dari kinerja tersebut adalah untuk menunjukkan bagaimana kinerja pengelolaan di masa lalu. Persentase kinerja yang ditunjukkan bukanlah indikasi atau jaminan keuntungan / kerugian yang akan diperoleh investor pada masa yang akan datang.

Informasi Benchmark

Benchmark atau Pembanding adalah informasi tambahan yang diberikan kepada investor untuk meihat bagaimana kinerja reksa dana dibandingkan dengan pembanding yang relevan. Bentuknya berupa persentase kinerja yang umumnya diletakkan persis di bawah kinerja reksa dana dengan berbagai periode tersebut.

Benchmark yang seringnya digunakan adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk reksa dana saham, Indeks Obligasi untuk reksa dana pendapatan tetap, kombinasi IHSG dengan Indeks Obligasi untuk reksa dana campuran dan deposito untuk reksa dana pasar uang.

Ada juga Manajer Investasi yang menggunakan rata-rata dari reksa dana sejenis untuk memberikan informasi kinerja reksa dana yang dikelola dibandingkan dengan rata-rata produk sejenis yang dijual di pasaran.

Kinerja suatu reksa dana dikatakan baik apabila secara konsisten mengalahkan benchmark yang dimaksud meskipun tidak ada jaminan kinerja akan terus berulang.

Apabila suatu reksa dana membukukan kinerja negatif dalam suatu periode, sebetulnya masih bisa dikatakan baik apabila ternyata indikator benchmark menunjukkan kinerja negatif yang lebih besar.

Informasi Portofolio

Yang dimaksud dengan informasi portofolio adalah daftar saham dan obligasi yang menjadi penempatan reksa dana. Karena tidak ada ketentuan mengenai format laporan FFS, maka informasi ini mungkin akan berbeda antara FFS reksa dana yang satu dengan yang lainnya.

Ada Manajer Investasi yang menampilkan 10 besar saham dan obligasi, ada juga hanya 5 saja. Ada pula yang tidak menampilkan nama sahamnya tapi menunjukkan hanya ke sektor mana investasi dilakukan seperti sektor pertambangan, sektor perkebunan, sektor konsumsi dan lainnya. Ada juga yang menampilkan data nama dan sektornya sekaligus.

Dengan mengetahui informasi portofolio, investor reksa dana bisa merasa nyaman karena mengetahui dana mereka tidak disalahgunakan. Selain itu, jika ada saham dan obligasi yang investor merasa kurang nyaman, bisa dijadikan sebagai pertimbangan dalam pemilihan reksa dana.

Informasi Risiko

Bentuk penyampaian risiko reksa dana dalam laporan FFS bermacam-macam. Ada yang menyampaikan risiko dalam bentuk “kata-kata” jenis risiko apa saja yang akan dihadapi seperti risiko pasar, risiko likuiditas, risiko wanprestasi, ada juga yang menyampaikan dalam bentuk angka kinerja atau angka berdasarkan analisa statistik.

Contoh informasi risiko yang dinyatakan dalam angka kinerja antara lain Return Terburuk 1 Bulan atau Worst One Month Return yang menunjukkan selama reksa dana tersebut terbit, kinerja return bulanan terburuk yang pernah dialami berapa persen.

Ada juga yang menampilkan data 1 tahun atau periode yang lebih panjang dengan istilah Maximum Draw Down. Return terburuk dan Maximum Draw Down memiliki arti yang sama.

Contoh informasi risiko yang dinyatakan dalam analisa statistik antara lain seperti Standard Deviation dan Beta. Secara sangat teknis, penjelasan bisa sangat panjang. Akan tetapi secara sederhana, apabila angka tersebut lebih besar dibandingkan benchmark itu berarti risikonya lebih besar dan sebaliknya.

gambar 14 copy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s