#2. Bab 25. Apa Dampak Kebijakan Suku Bunga Terhadap Kinerja Reksa Dana?

Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat membuat spekulasi suku bunga AS akan dinaikkan lebih cepat dari rencana. Untuk tahun 2017, diperkirakan kenaikan suku bunga the fed bisa berlangsung 2-3 kali. Di sisi lain, Indonesia sendiri suku bunga telah diturunkan beberapa kali pada tahun 2016. Untuk tahun 2017 diperkirakan bisa bertahan sepanjang tahun atau maksimal naik 1 kali.

Sehubungan dengan hal tersebut, kinerja investasi reksa dana juga ikut terpengaruh. Apa sebenarnya dampak kebijakan suku bunga terhadap kinerja reksa dana?

Suku bunga merupakan salah satu kebijakan moneter yang pelaksanaannya dilakukan oleh bank sentral di seluruh dunia. Cara kerja dari suku bunga sebagai kebijakan moneter dijabarkan sebagai berikut.

Ketika ekonomi mengalami perlambatan atau bahkan resesi, supaya bergeliat kembali bank sentral akan menurunkan suku bunga. Dengan demikian, diharapkan bunga kredit ikut turun, pengusaha mengajukan kredit dan berekspansi, serta pada akhirnya perekonomian tumbuh kembali.

Sebaliknya ketika ekonomi sedang mengalami pertumbuhan pesat yang menyebabkan tingkat inflasi terlalu tinggi, maka bank sentral akan menaikkan suku bunga yang berakibat pada meningkatnya bunga kredit. Dengan demikian diharapkan kegiatan ekspansi akan tidak terlalu agresif sehingga inflasi tidak menjadi terlalu tinggi.

Jadi secara sederhana, ketika kondisi ekonomi sedang kurang baik, suku bunga berpotensi diturunkan dan ketika kondisi ekonomi terlalu baik, suku bunga berpotensi dinaikkan. Tentu, selain naik dan turun, ada kemungkinan juga suku bunga tidak berubah apabila dirasakan sudah sesuai dengan kondisi perekonomian yang ada.

Selain tingkat pertumbuhan ekonomi, indikator lain yang menjadi pertimbangan bank sentral dalam menentukan tingkat suku bunga adalah tingkat inflasi. Umumnya bank sentral akan berupaya agar yang namanya tingkat bunga berada di atas tingkat inflasi. Jadi ketika inflasi naik tinggi, maka suku bunga berpotensi dinaikkan dan sebaliknya ketika inflasi sangat rendah, maka suku bunga berpotensi diturunkan. Umumnya pergerakan pertumbuhan ekonomi dan inflasi sejalan.

Ketika ekonomi sedang bagus, inflasi umumnya bergerak naik. Sebaliknya ketika pertumbuhan ekonomi sedang kurang bagus, inflasi juga akan rendah. Meski demikian, ada kemungkinan juga terjadi kondisi yang berlawanan di mana tingkat inflasi tinggi, sementara kondisi pertumbuhan ekonomi yang rendah.

Salah satu contohnya adalah misalkan ketika kondisi ekonomi sedang kurang bagus, pemerintah mencabut subsidi BBM. Akibatnya biaya meningkat dan inflasi menjadi tinggi, sementara kondisiperekonomian sedang tidak begitu baik.

Dampak Terhadap Kinerja reksa dana

Naik dan turunnya suku bunga sedikit banyak bisa berdampak terhadap harga saham dan obligasi yang menjadi portofolio investasi reksa dana. Untuk obligasi, teori yang berlaku adalah apabila tingkat suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun. Sebaliknya, jika tingkat suku bunga turun maka harga obligasi akan naik.

Dengan demikian, ketika suku bunga bank sentral diturunkan, reksa dana yang berinvestasi pada obligasi seperti reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran akan diuntungkan dan sebaliknya. Untuk saham, dampak suku bunga umumnya tidak langsung.

Secara teori, penurunan tingkat suku bunga akan menyebabkan bunga tabungan dan deposito di perbankan menjadi tidak menarik. Masyarakat akan mencari alternatif lain dengan imbal hasil yang lebih tinggi yaitu pasar modal. Meningkatnya permintaan akibat penurunan bunga akan menyebabkan kenaikan harga saham dan sebaliknya.

Terhadap perusahaan, penurunan tingkat suku bunga akan membuat biaya bunga pinjaman menurun sehingga mendorong ekspansi dan kenaikan laba bersih. Dalam jangka panjang, kenaikan laba bersih dapat membuat harga pasar saham meningkat. Dengan demikian, ketika suku bunga bank sentral diturunkan, reksa dana yang berinvestasi pada saham seperti reksa dana campuran dan reksa dana saham akan diuntungkan dan sebaliknya.

Yang harus dipahami oleh investor reksa dana adalah suku bunga bukanlah satu-satunya indikator yang menentukan naik turunnya harga saham dan obligasi. Terdapat juga faktor-faktor lainnya seperti permintaan dan penawaran, fundamental, valuasi, pertumbuhan ekonomi, dan berbagai sentimen lainnya baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Terkadang, perubahan suku bunga memang menyebabkan kinerja reksa dana naik atau turun, namun sifatnya hanya sementara saja. Bisa saja setelah itu, harga masih bisa naik atau turun, tapi disebabkan karena hal lainnya.

Untuk itu, sebagai investor reksa dana, cara terbaik untuk berinvestasi pada reksa dana bukanlah menentukan kapan waktu yang tepat untuk memulai berdasarkan suku bunga akan naik atau turun, tapi berinvestasilah sesuai tujuan keuangan. Sebagai contoh, untuk tujuan keuangan di bawah 1 tahun, bisa memilih reksa dana pasar uang, 1 – 3 tahun bisa memilih reksa dana pendapatan tetap, 3 – 5 tahun bisa memilih reksa dana campuran, dan tujuan di atas 5 tahun bisa memilih reksa dana saham.

Bagaimana ketika mau memulai investasi, dari berita yang ada menunjukkan gejala suku bunga mau naik? Sepanjang investasinya dilakukan sesuai jangka waktu, investor reksa dana tidak perlu terlalu khawatir. Malahan momentum penurunan harga tersebut, bila ada, bisa dimanfaatkan untuk menambah investasi pada harga bawah.

Bagaimana apabila terdapat dua berita yang berlawanan seperti suku bunga bank sentral di luar negeri seperti Amerika Serikat mau naik sementara karena inflasi rendah, suku bunga Bank Indonesia mau turun?

Dalam jangka panjang, kinerja reksa dana yang berbasis di Indonesia akan lebih terpengaruh oleh perubahan suku bunga di dalam negeri. Pengaruh Perubahan suku bunga di luar negeri biasanya hanya bersifat jangka pendek. Untuk itu, fokusnya adalah lebih ke perekonomian dalam negeri dan berinvestasi sesuai jangka waktu.

Bab 25 Kebijakan Suku Bunga dan Reksa Dana

Advertisements