#2. Bab 5. Kiat Berinvestasi Pada Reksa Dana Terproteksi

Reksa Dana terproteksi atau dikenal dengan Capital Protected Fund (CPF) adalah reksa dana yang berusaha melindungi modal investasi awal investor melalui mekanisme pengelolaan portofolio.Berbeda dengan reksa dana konvensional, penawaran reksa dana ini sifatnya terbatas. Bagaimana kiat berinvestasi pada reksa dana terproteksi?

Yang dimaksud dengan penawaran reksa dana terproteksi yang terbatas adalah bahwa reksa dana ini hanya bisa dibeli dalam jangka waktu dan nominal tertentu. Biasanya ketika mendapat pernyataan efektif, manajer investasi akan membuka masa penawaran reksa dana yang lamanya bisa berkisar antara 1 sampai 3 bulan.

Dalam periode tersebut, investor akan memasukkan penawaran. Apabila penawaran yang masuk lebih besar daripada jumlah yang ditawarkan, investor akan dijatah berdasarkan persentase penawaran terhadap total penawaran.

Bisa juga, investor yang membeli dalam jumlah besar didahulukan sehingga investor yang kecil tidak kebagian. Berbeda dengan reksa dana konvensional, reksa dana terproteksi diperbolehkan memberikan indikasi return. Artinya agen pemasar boleh menyebutkan bahwa reksa dana terproteksi ini akan memberikan indikasi bagi hasil sekian persen yang umumnya sedikit lebih tinggi dibandingkan suku bunga deposito yang berlaku. Karena adanya indikasi tersebut, reksa dana terproteksi sangat populer di kalangan nasabah perbankan.

Bagaimana cara kerja reksa dana terproteksi ?

Secara kebijakan, reksa dana terproteksi sama dengan reksa dana pendapatan tetap, di mana portofolio investasi antara 80 – 100 persen ditempatkan pada instrumen obligasi.Perbedaannya, reksa dana terproteksi membeli obligasi dan menahannya hingga jatuh tempo (hold to maturity). Sementara reksa dana pendapatan tetap akan memperdagangkan obligasi tersebut.

Karena perbedaan cara penanganan obligasi, maka reksa dana terproteksi hanya bisa dibeli di awal saja dan tidak bisa dijual sebelum jatuh tempo. Sementara pada reksa dana pendapatan tetap investor bisa melakukan pembelian dan penjualan kapan saja.

Belakangan ini, memang terdapat pengembangan fitur pada reksa dana terproteksi di mana investor bisa mencairkan sebelum jatuh tempo. Namun waktunya terbatas dan biasanya dibuat berbarengan dengan tanggal pembagian dividen reksa dana terproteksi.

Dengan membeli obligasi dan menahannya hingga jatuh tempo, maka jika obligasi tersebut tidak wanprestasi alias gagal bayar, maka seharusnya modal awal investor akan kembali. Namun jika obligasi tersebut mengalami gagal bayar, maka investor reksa dana terproteksi tetap berpotensi mengalami kerugian dari modal investasi awalnya.

Risiko Wanprestasi, Jangka Waktu dan Imbal Hasil

Berbeda dengan reksa dana pendapatan tetap yang maksimum penempatan pada surat berharga 1 perusahaan adalah 10 persen, penempatan pada reksa dana terproteksi bisa hingga 100 persen. Artinya, di reksa dana pendapatan tetap minimal terdapat 10 perusahaan yang berbeda dan di reksa dana terproteksi bisa hanya 1 perusahaan saja.

Dengan demikian risiko wanprestasi di reksa dana terproteksi lebih tinggi ketimbang reksa dana pendapatan tetap, kecuali semua isinya obligasi pemerintah. Untuk itulah, dalam reksa dana terproteksi, apabila terdiri dari obligasi korporasi, agen pemasar juga berkewajiban menunjukkan peringkat hutang dari obligasi yang dimiliki reksa dana tersebut.

Peringkat hutang yang layak investasi adalah minimum BBB dan supaya risiko gagal bayar lebih kecil adalah lebih baik jika peringkat hutangnya bisa lebih tinggi seperti A, AA atau AAA. Dalam berinvestasi di reksa dana terproteksi, faktor keamanan dari risiko wanprestasi adalah yang paling penting.

Untuk itulah, investor harus memastikan bahwa obligasi yang terdapat dalam portofolio reksa dana benar-benar aman dengan melihat peringkat hutangnya. Reksa dana terproteksi juga memiliki waktu jangka waktu yang disesuaikan dengan jatuh tempo obligasinya. Umumnya lama reksa dana terproteksi adalah sekitar 1 – 3 tahun.

Namun, bukan berarti yang di atas 3 tahun tidak baik, tapi mungkin karena permintaan kurang banyak dan investor merasa waktu lebih dari 3 tahun terlalu panjang. Tidak banyak manajer investasi yang menerbitkan reksa dana terproteksi dengan jangka waktu yang terlalu lama.

Besaran faktor imbal hasil adalah biasanya 1 hingga 2 persen di atas suku bunga deposito yang berlaku pada saat reksa dana terproteksi tersebut ditawarkan. Jika investor meyakini bahwa suku bunga deposito akan terus menurun di masa mendatang, maka imbal hasilnya yang lebih rendah tetap bisa dijadikan pertimbangan.

Saat ini, penawaran reksa dana terproteksi masih didominasi oleh perbankan. Itupun lebih diutamakan kepada nasabah prioritas dengan nominal investasi yang relatif besar. Karena memiliki jatuh tempo, maka terdapat banyak seri yang diterbitkan oleh manajer investasi.

Adalah tidak aneh jika anda menjumpai angka belasan hingga puluhan di belakang nama reksa dana terproteksi yang diterbitkan seperti Reksa Dana Terproteksi I, Reksa Dana Terproteksi II, dstnya. Bisa jadi ini karena reksa dana yang seri lama sudah jatuh tempo, bisa juga untuk memudahkan karena dipasarkan oleh agen penjual yang berbeda.

Dari sisi karakteristik dan profil, reksa dana terproteksi lebih cocok bagi investor dengan karakter deposan atau investor obligasi yang membutuhkan kepastian imbal hasil dan pengembalian nilai pokok investasi. Sebagian dari investor bahkan menganggap reksa dana terproteksi sebagai deposito yang jatuh temponya lebih panjang.

Secara pemasaran, reksa dana terproteksi memang jauh lebih mudah dipasarkan sehingga jumlah dana kelolaannya meningkat pesat dalam beberapa tahun belakangan ini. Namun dari sisi edukasi produk investasi agak kurang karena dengan berinvestasi pada reksa dana terproteksi investor “belum” bisa belajar merasakan risiko naik turunnya harga sebagaimana pada reksa dana konvensional.

Bab 5 RD Terproteksi

Advertisements