#24. Risiko Investasi : Dihindari atau Dihadapi

Dalam investasi reksa dana, pasti ada yang namanya risiko. Risiko dapat menyebabkan nilai pokok investor berkurang. Pertanyaannya, bagaimana sebaiknya investor bereaksi terhadap risiko? Apakah sebaiknya dihindari atau dihadapi ?

Kita mulai dari menghindari risiko. Apakah memungkinkan bagi investor untuk menghindari risiko? Jawabannya bisa.

Cara untuk menghindari risiko secara sempurna adalah dengan tidak berinvestasi. Namun dengan tidak berinvestasi, berarti juga kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kenaikan jangka panjang yang berpotensi dihasilkan oleh reksa dana.

Cara lain untuk menghindari risiko adalah dengan melakukan market timing. Dalam bahasa sederhana market timing adalah melakukan investasi ketika harga sudah mencapai titik terendah dan menjualnya ketika harga sudah mencapai titik tertinggi.

Permasalahannya, market timing mudah untuk diucapkan tapi sangat sulit untuk dilakukan. Anda bisa melakukan analisis dengan sangat mendalam mulai dari analisa fundamental, teknikal, ekonomi nasional, ekonomi global hingga perkembangan politik namun tetap tidak bisa mengetahui kapan waktu jual beli yang tepat secara konsisten.

Bahkan dengan dukungan data yang lengkap, alat analisa yang canggih serta SDM berkualitas yang kerjanya hanya memantau saham setiap hari sekalipun, yang namanya market timing juga bukan perkara mudah bagi para Manajer Investasi.

Jadi daripada bersusah payah menghindari risiko dengan melakukan market timing dan belum tentu berhasil juga, maka opsi lain bagi investor yang ingin mendapatkan potensi keuntungan jangka panjang dari investasi adalah dengan menghadapinya. Pertanyaannya, bagaimana cara menghadapi risiko?

Menghadapi risiko adalah bagaimana bisa tetap bersikap tenang menghadapi penurunan pasar dan bahkan memiliki dana untuk menambah investasi ketika harganya sedang turun. Jadi dalam prosesnya investor pasti akan mengalami penurunan pada nilai investasi juga.

Ketika kondisi pasar sedang turun, Tidak semua investor merasa sedih. Bagi yang memiliki kas dalam jumlah besar justru senang karena berkesempatan untuk berinvestasi di harga rendah. Jadi kuncinya adalah tetap memiliki kas.

Hal ini berlaku untuk investor yang baru mau berinvestasi dan untuk investor yang sudah berinvestasi sekalipun. Bagaimanapun caranya harus selalu memiliki cadangan kas yang cukup atau dalam perencanaan keuangan disebut dengan dana darurat.

Besaran dana darurat ini sangat relatif, bisa berkisar antara 3 bulan hingga 12 bulan pengeluaran tergantung kondisi masing-masing investor. Semakin tua usia, semakin banyak tanggungan keluarga maka sebaiknya dana darurat juga semakin besar.

Dalam kondisi reksa dana turun cukup dalam, sebagian dari dana darurat ini dapat digunakan untuk membeli di harga murah. Selain itu, dengan tetap memegang kas, investor diharapkan dapat berpikir tenang dan mengambil keputusan secara rasional.

Cara kedua dalam menghadapi risiko adalah menyusun portofolio yang terdiversifikasi. Atau dalam bahasa sederhana, jangan hanya berinvestasi pada satu reksa dana saja. Tapi berinvestasilah pada beberapa jenis reksa dana sesuai profil risiko.

Apabila profil risikonya konservatif, investor bisa berinvestasi sebagian besar dananya pada jenis reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap, baru bagian lainnya bisa dibagi pada reksa dana campuran dan saham dengan porsi yang lebih kecil.

Apabila profil risikonya moderat, maka porsi paling besar diletakkan dalam reksa dana campuran dan jika profil risikonya agresif maka bagian terbesar diletakkan dalam reksa dana saham.

Prinsip diversifikasi adalah investor membagi dana investasi ke dalam beberapa jenis reksa dana yang berbeda. Harapannya ketika pasar mengalami penurunan, ada jenis reksa dana yang penurunannya lebih sedikit atau bahkan bisa memberikan keuntungan.

Dalam setiap periodenya, investor dapat melakukan evaluasi. Apabila karena kenaikan atau penurunan harga sehingga komposisi sudah tidak seperti di bentuk pada awal pertama kali, maka investor dapat melakukan penyesuaian kembali. Periode evaluasi bisa 6 bulanan atau 1 tahunan.

Cara ketiga dalam menghadapi risiko adalah dengan memiliki rencana investasi yang sistematis. Hal ini berlaku khususnya untuk investor besar yang berinvestasi secara lump sum dan jangka pendek.

Yang dimaksud dengan rencana investasi yang sistematis adalah rencana secara jelas pada harga berapa kegiatan profit taking dan cutloss akan dilakukan. Ketika harga tersebut tercapai, maka harus segera dieksekusi. Jangan menunda dengan berharap harga masih akan naik atau turun lagi.

Cara ketiga ini memang tidak sesuai dengan prinsip investasi reksa dana yang mempercayakan pengelolaan ke Manajer Investasi dan periode investasi yang jangka panjang. Tapi suka tidak suka, banyak sekali investor terutama dari kalangan high net worth individual yang mungkin lebih cocok dengan cara ini. Hal ini dimungkinkan karena biasanya mereka memiliki akses informasi yang lebih baik meskipun dalam jangka panjang belum tentu hasilnya lebih baik dibandingkan buy and hold.gambar 24 copy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s