#19. Mengenal Reksa Dana Berbasis US Dollar

Di tengah mata uang Amerika Serikat atau dollar AS (USD) yang terus menguat seperti yang terjadi sekarang ini, sebagian dari anda tentu berpikir investasi di USD akan menguntungkan. Tapi tahukah anda, ada juga reksa dana yang berbasis USD? Seperti apa reksa dana tersebut?

Dalam peraturan OJK yang mengatur tentang pedoman Kontrak Investasi Kolektif, mata uang yang diperbolehkan untuk suatu reksa dana ada 3 yaitu Rupiah, USD dan Euro. Namun dalam prakteknya, baru dua yang digunakan yaitu Rupiah dan USD.

Jadi Manajer Investasi bisa menggunakan mata uang Rupiah ataupun USD dalam mata uang yang dibentuknya. Berdasarkan jenisnya, praktis, tidak ada perbedaan antara reksa dana dengan mata uang Rupiah dan USD.

Artinya jika ada reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, saham, terproteksi, dengan mata uang Rupiah, maka diperbolehkan membuat jenis reksa dana yang sama dengan mata uang USD.

Jadi ada reksa dana pasar uang USD, pendapatan tetap USD, campuran USD, saham USD dan terproteksi USD. Meski belum terlalu banyak, jumlah reksa dana ini terus bertambah dari tahun ke tahun.

Jenis reksa dana ini semakin mendapat minat dari masyarakat karena digunakan untuk tujuan keuangan yang membutuhkan mata uang USD seperti pendidikan anak di luar negeri dan mengembangkan kekayaan investor berbentuk USD.

Meski secara jenis sama, tapi ada beberapa perbedaan yang wajib investor cermati antara lain

Harga Reksa Dana

Yang membedakan NAB per Up atau harga reksa dana adalah harga awal reksa dana tersebut, dimana jika reksa dana Rupiah selalu dimulai dari Rp 1.000, maka reksa dana USD selalu dimulai dari 1 dollar AS.

Perbedaan lain adalah pada jumlah angka di belakang koma. Dimana umumnya harga reksa dana Rupiah menggunakan 2 hingga 4 angka di belakang koma, tapi untuk reksa dana USD dipastikan minimal menggunakan 4 angka di belakang koma.

Biaya Transfer Dana

Pembelian reksa dana baik Rp atau USD harus menggunakan cara transfer dari rekening tabungan atas nama sendiri. Meski demikian, rekening tabungan USD belum terlalu banyak dikenal oleh masyarakat.

Selain tidak semua bank memiliki fasilitas tabungan USD, nominal pembukaannya juga tidak kecil. Dan yang paling memberatkan adalah biaya transfer USD apabila dilakukan melalui bank yang berbeda.

Sebab berbeda dengan transfer menggunakan mata uang Rp, transfer menggunakan mata uang USD akan dikenakan berbagai biaya mulai dari biaya komisi bank pengirim, biaya bank koresponden, biaya same day (agar uang diterima pada hari yang sama) dan biaya full amount (agar nominal yang diterima sesuai dengan yang dituliskan).

Total dari biaya-biaya di atas bisa mencapai puluhan hingga ratusan USD tergantung nominal transaksi yang dijalankan. Untuk meminimalkan biaya tersebut, sebaiknya menggunakan rekening tabungan dolar di bank yang sama dengan bank kustodian reksa dana karena hanya akan dikenakan biaya pindah buku saja jika ada.

Risiko Nilai Tukar

Sesuai dengan peraturan OJK, ketentuan instrumen investasi yang diperbolehkan bagi reksa dana USD adalah pasar uang, obligasi dan saham. Kemudian dari 100 persen dana yang dimiliki, maksimum yang boleh diinvestasikan luar negeri adalah 15 persen, dengan kata lain minimum 85 persen harus ditempatkan pada instrumen investasi dalam negeri.

Untuk pasar uang dan obligasi, pada dasarnya tidak ada kendala yang terlalu besar karena Manajer Investasi bisa menempatkannya pada giro, deposito dan obligasi dengan mata uang USD.

Obligasi USD tersebut umumnya diterbitkan oleh pemerintah dan korporasi yang membutuhkan pendanaan dalam bentuk USD. Obligasi tersebut diterbitkan dalam nominal USD, membayar bunga dalam USD dan ketika jatuh tempo juga dikembalikan dalam mata uang USD.

Untuk reksa dana saham, karena tidak tersedianya saham dalam mata uang USD dan investasi ke luar negeri dibatasi maksimum 15 persen, maka umumnya Manajer Investasi akan menempatkannya pada instrumen saham berbasis Rupiah.

Perbedaan antara mata uang instrumen yang dibeli dengan mata uang reksa dana akan menyebabkan timbulnya risiko kurs pada reksa dana tersebut. Sebagai ilustrasi:

Investor menempatkan 10.000 dollar AS pada reksa dana ketika kurs Rp 10.000/ dollar AS atau setara Rp 100 juta. Manajer Investasi kemudian menggunakan uang tersebut untuk membeli saham dengan harga Rp 10.000 / lembar, atau diperoleh 100.000 lembar.

1 tahun kemudian harga saham naik menjadi Rp 12.000 atau 20 persen. Namun nilai tukar kurs menjadi Rp 13.000 / dollar AS. Maka nilai investasi milik investor adalah Rp 12.000 dikali 100.000 lembar menjadi Rp 120 juta. Kemudian dikurskan ke USD yaitu Rp 120 juta dibagi 13.000 = 9.230 dollar AS atau turun 770 dollar AS dari nilai investasi awal.

Sebaliknya, dalam skenario lain misalkan setelah 1 tahun harga saham naik menjadi Rp 12.000 atau 20 persen dan nilai tukar kurs menjadi Rp 9.000 / dollar AS. Maka nilai investasi akan sebagai berikut Rp 12.000 dikali 100.000 lembar = Rp 120 juta. Kemudian dikurs ke USD yaitu Rp 120 juta dibagi 9.000 = 13.333 dollar AS.

Dengan kata lain, risiko kurs adalah ibarat pedang bermata dua. Ketika kurs USD menguat terhadap Rupiah, maka akan membuat kinerja reksa dana berkurang. Sebaliknya Kurs USD melemah terhadap Rupiah, maka reksa dana akan mendapatkan keuntungan ganda dari kenaikan harga saham dan kurs.

Perlu diperhatikan bahwa risiko kurs ini hanya terjadi pada reksa dana saham dan campuran USD yang memiliki komposisi dominan pada penempatan saham. Pada reksa dana pendapatan tetap, pasar uang dan terproteksi USD, praktis tidak ada sama sekali karena seluruh penempatannya pada instrumen berbasis USD langsung.

Asumsi Return

Jika deposito dalam bentuk USD akan memberikan bunga yang lebih rendah dibandingkan Rupiah. Di obligasi juga demikian, dimana obligasi USD akan memberikan kupon lebih kecil dibandingkan obligasi Rupiah.

Untuk saham sebetulnya tergantung. Jika pada tahun yang bersangkutan mata uang USD melemah maka return reksa dana saham USD bisa lebih tinggi daripada reksa dana saham Rupiah dan sebaliknya.

Namun melihat tren nilai tukar mata uang USD dan Rupiah dalam jangka panjang dimana USD cenderung menguat, maka kemungkinan besar dalam return reksa dana saham USD dalam jangka panjang akan lebih rendah dibandingkan reksa dana saham Rupiah.

Meski belum ada penelitian yang membuktikan, menurut perkiraan saya seharusnya reksa dana pendapatan tetap USD akan lebih rendah 2 – 3 persen dibandingkan reksa dana pendapatan tetap Rupiah dan untuk reksa dana campuran dan saham USD akan lebih rendah 4 – 7 persen.

Referensi Bab 8 : Prinsip SMART Dalam Investasi Reksa Danagambar 19 copy

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Esther says:

    Malam pak Rudi,

    Bgmn cara nya wni ( ber ktp dki) yang sementara berdomisili di inggris berinvestasi di reksadana di indonesia ?

    Kalau bisa dan ingin berinvestasi di panin, bisakah melalui online ?
    Sebaik nya memakai kurs rupiah atau usd ?

    Thanks sebelumnya.

    Like

    1. Rudiyanto says:

      Selamat malam ibu Esther,

      Sebelumnya terima kasih atas kepercayaannya kepada Panin Asset Management.

      Terkait proses pembukaan rekening secara online saat ini bisa dimungkinkan. Lebih lengkapnya silakan klik link ini http://www.panin-am.co.id/CustomerRegistrationNew.aspx

      Untuk lebih mudahnya, memang sebaiknya menggunakan rekening tabungan Rp yang ada di Indonesia. Namun jika hal tersebut tidak memungkinkan, anda bisa menggunakan rekening anda di Inggris.

      Namun penggunaan rekening di luar negeri akan membuat anda terpapar pada risiko nilai tukar karena kurang lebih prosesnya sebagai berikut :
      1. Anda transfer dari rekening anda di Inggris (bisa mata uang Euro atau USD) ke rekening reksa dana di bank kustodian dengan mata uang Rp di Indonesia. Selanjutnya bukti transfernya bisa disampaikan ke Customer Service melalui email atau WhatApps
      2. Karena pembelian Rp tidak dapat dilakukan di luar negeri (sepengetahuan saya), maka proses konversi dari mata uang asing ke mata uang Rp tersebut dilakukan oleh Bank Kustodian. Bisa Deutsche Bank, BCA, Bank Niaga, atau Standard Chartered tergantung reksa dana yang anda pilih.

      Risiko dari cara di atas adalah pada saat proses konversi dilakukan, kursnya ditentukan oleh bank kustodian dan anda tidak bisa menawar. Kemudian ada juga biaya transfer untuk mata uang asing yang cukup mahal sehingga jika nilai investasinya tidak signifikan, anda bisa rugi cukup banyak di biaya transfer ini.

      Risiko dari kurs dan biaya transfer ini bisa diminimalkan apabila transfernya dilakukan dari rekening bank anda di Indonesia. Lebih ideal lagi jika anda punya Bank BCA karena bisa menggunakan Virtual Account. Dengan menggunakan cara ini, anda tidak perlu mengirimkan bukti transfer lagi, sebab begitu transaksi dilakukan sudah bisa diketahui untuk siapa investornya.

      Jika anda tidak memiliki rekening di BCA, maka transfernya ke rekening bank kustodian dan selanjutnya anda perlu konfirmasi ke CS dengan mengirimkan bukti transfer anda.

      Apabila anda membutuhkan panduan lebih lengkapnya, bisa menghubungi nomor WhatApps Panin Asset Management di +6281806990622 atau +6281806990633 atau via CS@panin-am.co.id

      Jika ada yang masih kurang jelas, silakan bisa bertanya melalui blog ini.

      Terima kasih dan semoga keinginan anda untuk investasi bisa tercapai.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s